Jumat, 04 September 2015

Menjaga Kesehatan dengan Cara Yang Unik

Menjaga kesehatan atau mengobati penyakit tidak melulu harus mengonsumsi vitamin dan obat-obatan. Seperti yang dikutip dari Menshealth. Berikut 7 Tips Aneh untuk Jaga Kesehatan, yaitu :

1. Setelah menganalisa lebih dari 51 kamar mandi umum, para ahli menemukan bahwa toilet pertama atau toilet yang berada paling dekat dengan pintu masuk kamar mandi adalah toilet yang memiliki tingkat bakteri paling rendah. Hal ini dikarenakan orang cenderung memilih toilet yang paling ujung untuk privasi mereka. Mulai sekarang, pilihlah toilet yang dekat dengan pintu masuk karena jauh lebih bersih.

2. Jika Anda termasuk pengidap claustrophobic atau fobia terhadap ruangan sempit, pergilan ke supermarket atau pasar buah terdekat. Mengendus apel hijau dapat bantu meringankan sesak nafas dan rasa panik.

3. Kurangi pemakaian sabun antibakteri. American Medical Association (AMA) mengkalim bahwa sabun antibakteri tidak memiliki bukti ilmiah bahwa sabun tersebut lebih kuat melawan bakteri ketimbang sabun biasa. Bahkan AMA mengatakan bahwa sabun ini bisa membuat kuman dan bakteri menjadi lebih kuat dan tahan terhadap pembunuh kuman. Lagipula, hampir lebih dari 50 persen sabun yang dijual sudah mengandung antimikroba di dalamnya.

4. Sering merasa sakit punggung setelah menyetir terlalu lama? Hal ini mungkin disebabkan oleh posisi tulang punggung yang salah saat menyetir.Coba tips ini, anggap ada seseorang yang menuangkan air es pada punggung Anda. Bahu mundur dan punggung yang tegak merupakan posisi menyetir yang paling benar.

5. Ketika Anda mendapatkan luka tergores akibat irisan pisau, segera bersihkan luka tersebut dibawah air yang mengalir. Jangan lupa kenakan sabun, jika sebelumnya Anda memegang daging mentah. Kemudian taburi luka dengan lada hitam. Dalam beberapa waktu, pendarahan akan berhenti. Ini karena lada hitam memiliki kandungan analgesik, antibakteri dan antiseptik.

6. Jika pasangan Anda memiliki kumis dan mengidap alergi, sarankan padanya untuk mencuci kumis dua kali sehari dengan sabun cair. Sebuah studi menemukan, orang yang melakukan hal ini cenderung lebih sedikit menggunakan antihistamin dan dekongestan. Alasannya, membersihkan kumis dapat mencegah serbuk sari menempel pada kumis.

7. Ingin menurunkan risiko terkena serangan jantung dan stroke? Peliharalah binatang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa membelai binatang peliharaan seperti anjing, dapat menjaga tekanan darah tetap terkontrol walaupun sedang stres.

Kamis, 23 Juli 2015

Hari yang Fitri

Salah satu aktivitas yang khas di bulan Syawal (khususnya di moment Idul Fithri) adalah saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Moment tersebut memang moment terbaik untuk saling mengunjungi, apalagi mengunjungi orang tua dan kerabat karena waktu senggang dan seluruh keluarga dekat bisa mudah ditemui adalah pada waktu tersebut. Dan sungguh saling mengunjungi silaturahmi ini memiliki keutamaan yang besar dari sisi pahala dan umur yang berkah, di samping dapat memupuk dan melagengkan kasih sayang.
Keutamaan Saling Mengunjungi
Beberapa hadits telah menerangkan tentang keutamaan saling mengunjungi sesama muslim. Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, “Sesungguhnya seseorang ada yang ingin mengunjungi saudaranya di kota lain. Allah lalu mengutus malaikat untuknya di jalan yang akan ia lalui. Malaikat itu pun berjumpa dengannya seraya bertanya, ‘Ke mana engkau akan pergi? Ia menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di kota ini?’ Malaikat itu bertanya kembali, ‘Apakah ada suatu nikmat yang terkumpul untukmu karena sebab dia?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Aku hanya mencintai dia karena Allah ‘azza wa jalla.’ Malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untukmu. Allah sungguh mencintaimu karena kecintaan engkau padanya’.” (HR. Muslim no. 2567). Hadits ini disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Shahih Muslim dengan judul bab “Keutamaan saling cinta karena Allah”. Dan dalil ini dijadikan oleh para ulama sebagai dalil keutamaan saling mengunjungi sesama muslim dan mengunjungi orang sholeh yang dilandasi ikhlas dan saling mencintai karena Allah. Jadi dasarnya adalah karena Allah yaitu karena iman yang dimiliki saudaranya.
Dalam hadits ‘Ubadah bin Ash Shamit, disebutkan, “Sungguh Aku mencintai orang yang saling mencintai karena-Ku. Sungguh Aku pun mencintai orang yang saling berkunjung karena-Ku. Sunguh Aku mencintai orang yang saling berderma karena-Ku. Sungguh aku mencintai orang yang saling bersedekah karena-Ku. Begitu pula dengan orang yang saling menyambung (hubungan kekerabatan) karena-Ku.” (HR. Ahmad 5/229, shahih).
Mengunjungi Kerabat
Lebih utama lagi jika seorang muslim mengunjungi orang tua, saudara dan kerabatnya. Ini akan membuahkan pahala yang lebih besar. Inilah yang dimaksudkan silaturahmi.
Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,
تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)
Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah n0. 4211, shahih)
Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991)
Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558)
Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ
“Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi).
Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ
“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)
Memang terjadi salah kaprah mengenai istilah silaturahmi (silaturahim) di tengah-tengah kita sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas. Yang tepat, menjalin tali silaturahmi adalah istilah khusus untuk berkunjung kepada orang tua, saudara atau kerabat. Jadi bukanlah istilah umum untuk mengunjungi orang sholeh, teman atau tetangga. Sehingga yang dimaksud silaturahmi akan memperpanjang umur adalah untuk maksud berkunjung kepada orang tua dan kerabat. Ibnu Hajar dalam Al Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.” Itulah makna yang tepat.
Menebus Kesalahan
Setiap hamba tidak akan lepas dari dosa, baik dosa antara dirinya dengan Sang Kholiq dan dosa terhadap sesama begitu pula terhadap orang-orang terdekat. Dosa kepada Allah bisa ditebus dengan taubat. Taubat di sini mengharuskan untuk menyesali dosa yang telah lalu, kembali taat untuk saat ini dan bertekad tidak mengulangi dosa tersebut di masa mendatang. Sedangkan kesalahan terhadap sesama di samping memenuhi syarat tadi, juga mengharuskan untuk meminta maaf kepada saudara tempat kita berbuat khilaf. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barang siapa melakukan tindak kelaliman kepada seseorang, baik pada harga diri atau harta bendanya, hendaknya ia segera menyelesaikannya sekarang juga, sebelum datang hari kiamat, suatu hari yang tidak berlaku lagi uang dinar atau dirham. Akibatnya, bila ia memiliki amal shaleh, maka akan dipungut sebanyak tindak kelalimannya. Bila ia tidak memiliki amal kebajikan, maka akan dipungutkan dari dosa orang tersebut, lalu dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449). Kondisi semacam ini tentu sangat memilukan hati kita. Di saat kita sangat butuh pada pahala amal ibadah kita, ternyata semuanya sirna karena digunakan menebus khilaf. Penyesalan yang tiada terobati pasti menyelimuti diri kita kala itu dan perasaan merugi pasti menggerogoti batin ini. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
“Orang yang benar-benar pailit dari umatku ialah orang yang di hari kiamat dibangkitkan dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Di saat yang sama ini juga memikul dosa mencaci, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Sebagai tebusannya, orang ini diberi tebusan dari pahala amal kebajikannya, ini juga diberi tebusan dari pahala amal kebajikannya, dan ini juga diberi tebusan dari pahala amal kebajikannya. Bila pahala amal kebajikannya telah habis, padahal dosanya belum terbayar semua, maka dipungutkan dari dosa-dosa mereka dan dibebankan kepadanya. Akibatnya ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim no. 2581). Kebutuhan kita untuk terus saling memaafkan dan meminta maaf ini tentu tiada pernah putus selama masih hidup bermasyarakat termasuk dalam hidup rumah tangga dan hubungan dengan kerabat. Namun sekali lagi, saling memaafkan di sini sebenarnya bukan jadi moment khusus yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  di hari raya. Ketika ada salah dan yakin pernah berbuat khilaf pada orang tua, kerabat dan lainnya, hendaklah kita minta diputihkan atau dimaafkan. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi suatu hal yang Islam wajibkan di hari raya nan fitri. Saling mengunjungi dan saling memberi ucapan selamat akan kesuksesan di bulan Ramadhan serta saling mendoakan akan diterimanya amal-amal kita saat berpuasa, itu mesti lebih kita pupuk di hari raya.
Moga tulisan sederhana dapat semakin memupuk dan mewariskan kasih sayang kita terhadap sesama. Wallahu waliyyut taufiq. (*)